BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Telah kita ketahui sebelumnya, Indonesia memang
terkenal akan kekayaan alamnya terutam pada rempah – rempahnya sehingga banyak
yang datang untuk mengadakan perdagangan dengan rakyat Indonesia. Namun begitu,
ada pula yang menyalahgunakan kekayaan tersebut, atau dapat dikatakan dari
adanya kekayaan rempah – rempah tersebut membuat mereka bernafsu untuk dapat
menguasainya.
Kedatangan bangsa Belanda di Indonesia pada pertama
kalinya adalah semata-mata untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya untuk
memperoleh kejayaaan atau mengharumkan tanah airnya (gold, gospel, glory).
Untuk mengatasi persaingan tidak sehat dan sekaligus mematahkan dominasi
Portugis, seorang anggota parlemen Belanda bernama Johan Van Oldebanevelt
mengajukan usul yaitu penggabungan seluruh perusahaan datang yang ada di
Belanda menjadi satu serikat dagang. Usulan tersebut mendapat sambutan baik.
Pada tanggal 20 Maret 1602, berdiri Verenigde Oost Compagnie atau serikat
perusahaan dagang hindia timur, yang biasa dikenal dengan VOC. Dengan modal
pertama 6,5 miliar gulden, VOC dipimpin oleh tujuh belas direktur.
Mereka dikenal dengan sebutan Heeren Zeventien.
Dari situlah awal cerita VOC dalam menguasai rempah –
rempah Indonesia. Makalah ini disusun untuk mengetahui lebih lanjut sejarah VOC
di Indonesia, mengetahui apa saja yang mereka lakukan sehingga mereka dapat
berkembang yang kemudian dapat bangkrut dan akhirnya dibubarkan.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Aceh Melawan Portugis dan VOC
Setelah Malaka jatuh ke
tangan Portugis pada tahun 1511, justru membawa hikmah bagi Aceh. Banyak para
pedagang Islam yang menyingkir dari Malaka menuju ke Aceh. Dengan demikian
perdagangan di Aceh semakin ramai. Hal ini telah mendorong Aceh berkembang menjadi
bandar dan pusat perdagangan. Perkembangan Aceh yang begitu pesat ini dipandang
oleh Portugis sebagai ancaman, oleh karena itu, Portugis berkehendak untuk
menghancurkan Aceh. Pada tahun 1523 Portugis melancarkan serangan ke Aceh di
bawah pimpinan Henrigues, dan menyusul pada tahun 1524 dipimpin oleh de Sauza.
Beberapa serangan Portugis ini mengalami kegagalan. Portugis terus mencari cara
untuk melemahkan posisi Aceh sebagai pusat perdagangan. Kapal-kapal Portugis
selalu mengganggu kapal-kapal dagang Aceh di manapun berada. Misalnya, pada
saat kapal-kapal dagang Aceh sedang berlayar di Laut Merah pada tahun 1524/1525
diburu oleh kapal-kapal Portugis untuk ditangkap. Sudah barang tentu tindakan
Portugis telah merampas
kedaulatan Aceh yang ingin bebas dan berdaulat berdagang dengan siapa saja,
mengadakan hubungan dengan bangsa manapun atas dasar persamaan. Oleh karena
itu, tindakan kapal-kapal Potugis telah mendorong munculnya perlawanan rakyat
Aceh. Sebagai persiapan Aceh melakukan langkah-langkah antara lain:
1. Melengkapi kapal-kapal dagang Aceh dengan
persenjataan, meriam dan prajurit
2. Mendatangkan bantuan persenjataan, sejumlah
tentara dan beberapa ahli dari Turki pada tahun
1567.
3. Mendatangkan bantuan persenjataan dari
Kalikut dan Jepara.
Setelah berbagai bantuan berdatangan, Aceh segera melancarkan serangan
terhadap Portugis di Malaka. Portugis harus bertahan mati-matian di
Formosa/Benteng. Portugis harus mengerahkan semua kekuatannya sehingga serangan
Aceh ini dapat digagalkan. Sebagai tindakan balasan pada tahun 1569 Portugis
balik menyerang Aceh, tetapi serangan Portugis di Aceh ini juga dapat
digagalkan oleh pasukan Aceh.Rakyat Aceh dan para pemimpinnya selalu ingin
memerangi kekuatan dan dominasi asing, oleh karena itu, jiwa dan semangat juang
untuk mengusir Portugis dari Malaka tidak pernah padam. Pada masa pemerintahan
Sultan Iskandar Muda (1607-1639), semangat juang mempertahankan tanah air dan
mengusir penjajahan asing semakin meningkat. Iskandar Muda adalah raja yang
gagah berani dan bercita-cita untuk mengenyahkan penjajahan asing, termasuk
mengusir Portugis dari Malaka. Iskandar Muda berusaha untuk melipatgandakan
kekuatan pasukannya. Angkatan lautnya diperkuat dengan kapal-kapal besar yang
dapat mengangkut 600-800 prajurit. Pasukan kavaleri dilengkapi dengan kuda-kuda
dari Persia, bahkan Aceh juga menyiapkan pasukan gajah dan milisi infanteri.
Sementara itu untuk mengamankan wilayahnya yang semakin luas meliputi Sumatera
Timur dan Sumatera Barat, ditempatkan para pengawas di jalur-jalur perdagangan.
Para pengawas itu ditempatkan di pelabuhan-pelabuhan penting seperti di
Pariaman. Para pengawas itu umumnya terdiri para panglima perang.
Setelah mempersiapkan pasukannya, pada tahun 1629 Iskandar Muda melancarkan
serangan ke Malaka. Menghadapi serangan kali ini Portugis sempat kewalahan.
Portugis harus mengerahkan semua kekuatan tentara dan persenjataan untuk
menghadapi pasukan Iskandar Muda. Namun, serangan Aceh kali ini juga tidak
berhasil mengusir Portugis dari Malaka. Hubungan Aceh dan Portugis semakin
memburuk. Bentrokan-bentrokan antara kedua belah pihak masih sering terjadi,
tetapi Portugis tetap tidak berhasil menguasai Aceh dan begitu juga Aceh tidak
berhasil mengusir Portugis dari Malaka. Yang berhasil mengusir Portugis dari Malaka
adalah VOC pada tahun 1641.
2. Maluku Angkat Senjata
Portugis berhasil memasuki Kepulauan Maluku pada tahun 1521. Mereka
memusatkan aktivitasnya di Ternate. Tidak lama berselang orang-orang Spanyol
juga memasuki Kepulauan Maluku dengan memusatkan kedudukannya di Tidore.
Terjadilah persaingan antara kedua belah pihak. Persaingan itu semakin tajam
setelah Portugis berhasil menjalin persekutuan dengan Ternate dan Spanyol
bersahabat dengan Tidore.
Pada tahun 1529 terjadi perang antara Tidore melawan Portugis. Penyebab
perang ini karena kapal-kapal Portugis menembaki jung-jung dari Banda yang akan
membeli cengkih ke Tidore. Tentu saja Tidore tidak dapat menerima tindakan
armada Portugis. Rakyat Tidore angkat senjata. Terjadilah perang antara Tidore
melawan Portugis. Dalam perang ini Portugis mendapat dukungan dari Ternate dan
Bacan. Akhirnya Portugis mendapat kemenangan. Dengan kemenangan ini Portugis
menjadi semakin sombong dan sering berlaku kasar terhadap penduduk Maluku.
Upaya monopoli terus dilakukan. Maka, wajar jika sering terjadi letupan-letupan
perlawanan rakyat.
Sementara itu untuk menyelesaikan persaingan antara Portugis dan Spanyol
dilaksanakan perjanjian damai, yakni Perjanjian Saragosa pada tahun 1534.
Dengan adanya Perjanjian Saragosa kedudukan Portugis di Maluku semakin kuat.
Portugis semakin berkuasa untuk memaksakan kehendaknya melakukan monopoli
perdagangan rempah-rempah di Maluku. Kedudukan Portugis juga semakin mengganggu
kedaulatan kerajaan-kerajaan yang ada di Maluku. Pada tahun 1565 muncul
perlawanan rakyat Ternate di bawah pimpinan Sultan Khaerun/Hairun. Sultan
Khaerun menyerukan seluruh rakyat dari Irian/Papua sampai Jawa untuk angkat
senjata melawan kezaliman kolonial Portugis. Portugis mulai kewalahan dan
menawarkan perundingan kepada Sultan Khaerun. Dengan pertimbangan kemanusiaan,
Sultan Khaerun menerima ajakan Portugis Perundingan dilaksanakan pada tahun
1570 bertempat di Benteng Sao Paolo. Ternyata semua ini hanyalah tipu muslihat
Portugis. Pada saat perundingan sedang berlangsung, Sultan Khaerun ditangkap
dan dibunuh. Apa yang dilakukan Portugis kala itu sungguh kejam dan tidak
mengenal perikemanusiaan. Demi keuntungan ekonomi Portugis telah merusak
sendi-sendi kehidupan kemanusiaan dan » keberagamaan.
Setelah Sultan Khaerun dibunuh, perlawanan dilanjutkan di bawah pimpinan
Sultan Baabullah (putera Sultan Khaerun). Melihat tindakan Portugis yang tidak
mengenal nilai-nilai kemanusiaan, semangat rakyat Maluku untuk melawannya
semakin berkobar. Seluruh rakyat Maluku berhasil dipersatukan termasuk Ternate
dan Tidore untuk melancarkan serangan besar-besaran terhadap Portugis. Akhirnya
Portugis dapat didesak dan pada tahun 1575 berhasil diusir dari Ternate.
Orang-orang Portugis kemudian melarikan diri dan menetap di Ambon sampai tahun
1605. Tahun itu Portugis dapat diusir oleh VOC dari Ambon dan kemudian menetap
di Timor Timur.
Serangkaian rakyat terus terjadi terhadap
Portugis maupun VOC yang
melakukan tindakan kejam dan sewenang-wenang kepada rakyat . Misalnya pada periode tahun 1635-1646 terjadi
serangan sporadis dari rakyat Hitu yang dipimpin oleh Kakiali dan Telukabesi.
Perlawanan rakyat ini juga meluas ke Ambon. Tahun 1650 perlawanan rakyat juga
terjadi di Ternate yang dipimpin oleh Kecili Said. Sementara perlawanan secara
gerilya terjadi seperti di Jailolo. Namun berbagai serangan itu selalu dapat
dipatahkan oleh kekuatan VOC yang memiliki peralatan senjata lebih lengkap.
Rakyat terus mengalami penderitaan akibat kebijakan monopoli rempah-rempah yang
» disertai
dengan Pelayaran Hongi.
Pada tahun 1680, VOC memaksakan sebuah perjanjian baru dengan penguasa
Tidore. Kerajaan Tidore yang semula sebagai sekutu turun statusnya menjadi
vassal VOC, dan sebagai penguasa yang baru diangkatlah Putra Alam sebagai
Sultan Tidore (menurut tradisi kerajaan Tidore yang berhak sebagai sultan
semestinya adalah Pangeran Nuku). Penempatan Tidore sebagai vassal atau daerah
kekuasaan VOC telah menimbulkan protes keras dari Pangeran Nuku. Akhirnya Nuku
memimpin perlawanan rakyat. Timbullah perang hebat antara rakyat Maluku di
bawah pimpinan Pangeran Nuku melawan kekuatan kompeni Belanda (tentara VOC).
Sultan Nuku mendapat dukungan rakyat Papua di bawah pimpinan Raja Ampat dan
juga orang-orang Gamrange dari Halmahera. Oleh para pengikutnya, Pangeran Nuku
diangkat sebagai sultan dengan gelar Tuan Sultan Amir Muhammad Syafiudin Syah. Sultan Nuku juga berhasil
meyakinkan Sultan Aharal dan Pangeran Ibrahim dari Ternate untuk bersama-sama
melawan VOC. Bahkan dalam perlawanan ini Inggris juga memberi dukungan terhadap
Sultan Nuku. Belanda kewalahan dan tidak mampu membendung ambisi Nuku ntuk
lepas ari dominasi Belanda. Sultan Nuku ber hasil mengembangkan pemerintahan
yang berdaulat melepaskan diri dari dominasi Belanda di Tidore sampai akhir
hayatnya
(tahun 1805).
3. Sultan Agung ( Versus J.P. Coen )
Sultan Agung adalah raja yang paling terkenal dari Kerajaan Mataram. Pada
masa pemerintahan Sultan Agung, Mataram mencapai zaman keemasan. Cita-cita
Sultan Agung antara lain:
1.
mempersatukan
seluruh tanah Jawa, dan
2.
mengusir
kekuasaan asing dari bumi Nusantara.
Terkait dengan cita-citanya ini maka Sultan Agung sangat menentang
keberadaan kekuatan VOC di Jawa
Apalagi tindakan VOC yang
terus memaksakan kehendak untuk melakukan monopoli perdagangan membuat para
pedagang Pribumi mengalami kemunduran. Kebijakan monopoli itu juga dapat
membawa penderitaan rakyat. Oleh karena itu, Sultan Agung merencanakan serangan
ke Batavia. Ada beberapa alasan mengapa Sultan Agung merencanakan serangan ke
Batavia, yakni:
1. Tindakan monopoli yang dilakukan VOC,
2. VOC sering
menghalang-halangi kapal-kapal dagang Mataram yang akan berdagang ke Malaka,
3. VOC
menolak untuk mengakui kedaulatan Mataram, dan
4. Keberadaan VOC di Batavia telah memberikan ancaman
serius bagi masa depan Pulau Jawa.
Pada tahun 1628 telah dipersiapkan pasukan dengan segenap persenjataan dan
perbekalan. Pada waktu itu yang menjadi gubernur jenderal VOC adalah J.P. Coen.
Sebagai pimpinan pasukan Mataram adalah Tumenggung Baureksa. Tepat pada tanggal
22 Agustus 1628, pasukan Mataram di bawah pimpinan Tumenggung Baureksa
menyerang Batavia. Pasukan Mataram berusaha membangun pos pertahanan, tetapi
kompeni VOC berusaha menghalang-halangi, sehingga pertempuran antara kedua
pihak tidak dapat dihindarkan. Di tengah-tengah berkecamuknya peperangan itu pasukan
Mataram yang lain berdatangan seperti pasukan di bawah Sura Agul-Agul yang
dibantu oleh Kiai Dipati Mandurareja dan Upa Santa. Datang pula laskar
orang-orang Sunda di bawah pimpinan Dipati Ukur. Pasukan Mataram berusaha
mengepung Batavia dari berbagai tempat. Terjadilah pertempuran sengit antara
pasukan Mataram melawan tentara VOC di berbagai tempat. Tetapi kekuatan tentara
VOC dengan senjatanya jauh lebih unggul, sehingga dapat memukul mundur semua
lini kekuatan pasukan Mataram. Tumenggung Baureksa sendiri gugur dalam
pertempuran itu. Dengan demikian serangan tentara Sultan Agung pada tahun 1628
itu belum berhasil.
Sultan Agung tidak lantas berhenti dengan kekalahan yang baru saja dialami
pasukannya. Ia segera mempersiapkan serangan yang kedua. Belajar dari kekalahan
terdahulu Sultan Agung meningkatkan
jumlah kapal dan senjata, Ia juga membangun lumbung-lumbung beras untuk
persediaan bahan makanan seperti di Tegal dan Cirebon. Tahun 1629 pasukan
Mataram diberangkatkan menuju Batavia. Sebagai pimpinan pasukan Mataram
dipercayakan kepada Tumenggung Singaranu, Kiai Dipati Juminah, dan Dipati
Purbaya. Ternyata informasi persiapan pasukan Mataram diketahui oleh VOC.
Dengan segera VOC mengirim kapal-kapal perang untuk menghancurkan
lumbung-lumbung yang dipersiapkan pasukan Mataram. Di Tegal tentara VOC
berhasil menghancurkan 200 kapal Mataram, 400 rumah penduduk dan sebuah lumbung
beras. Pasukan Mataram pantang mundur,
dengan kekuatan pasukan yang ada terus berusaha mengepung Batavia. Pasukan
Mataram berhasil mengepung dan menghancurkan Benteng Hollandia. Berikutnya
pasukan Mataram mengepung Benteng Bommel, tetapi gagal menghancurkan benteng
tersebut. Pada saat pengepungan Benteng Bommel, terpetik berita bahwa J.P. Coen
meninggal. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 21 September 1629. Dengan semangat
juang yang tinggi pasukan Mataram terus melakukan penyerangan. Dalam situasi
yang kritis ini pasukan Belanda semakin marah dan meningkatkan kekuatannya
untuk mengusir pasukan Mataram. Dengan mengandalkan persenjataan yang lebih
baik dan lengkap, akhirnya dapat menghentikan serangan-serangan pasukan
Mataram. Pasukan Mataram semakin melemah dan akhirnya ditarik mundur kembali ke
Mataram. Dengan demikian serangan Sultan Agung yang kedua ini juga mengalami
kegagalan.
Dengan kegagalan pasukan Mataram menyerang Batavia, membuat VOC semakin
berambisi untuk terus memaksakan monopoli dan memperluas pengaruhnya di
daerah-daerah lain. Namun di balik itu VOC selalu khawatir dengan kekuatan
tentara Mataram. Tentara VOC selalu berjaga-jaga untuk mengawasi gerak-gerik
pasukan Mataram. Sebagai contoh pada waktu pasukan Sultan Agung dikirim ke Palembang untuk membantu Raja
Palembang dalam melawan VOC, langsung diserang oleh tentara VOC di tengah
perjalanan.
Perlawanan pasukan Sultan Agung terhadap VOC memang mengalami kegagalan.
Tetapi semangat dan cita-cita untuk melawan dominasi asing di Nusantara terus
tertanam pada jiwa Sultan Agung dan para pengikutnya. Sayangnya semangat ini
tidak diwarisi oleh raja-raja pengganti Sultan Agung.
Setelah Sultan Agung meninggal tahun 1645, Mataram menjadi semakin lemah
sehingga akhirnya berhasil dikendalikan oleh VOC.
Sebagai pengganti Sultan Agung adalah Sunan Amangkurat I. Ia memerintah
pada tahun 1646 -1677. Ternyata Raja Amangkurat I merupakan raja yang lemah dan
bahkan bersahabat dengan VOC. Raja ini juga bersifat reaksioner dengan bersikap
sewenang-wenang kepada rakyat dan kejam terhadap para ulama. Oleh karena itu,
pada masa pemerintahan Amangkurat I itu timbul berbagai perlawanan rakyat.
Salah satu perlawanan itu dipimpin oleh Trunajaya.
4. Perlawanan Banten
Banten memiliki posisi yang strategis sebagai bandar perdagangan
internasional. Oleh karena itu sejak semula Belanda ingin menguasai Banten,
tetapi tidak pernah berhasil. Akhirnya
VOC membangun Bandar di Batavia pada tahun 1619. Terjadi persaingan antara
Banten dan Batavia memperebutkan posisi sebagai bandar perdagangan
internasional. Oleh karena itu, rakyat Banten sering melakukan
serangan-serangan terhadap VOC.
Tahun 1651, Pangeran Surya naik tahta di Kesultanan Banten. Ia adalah cucu
Sultan Abdul Mufakhir Mahmud Abdul Karim, anak dari Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad
yang wafat pada 1650. Pangeran Surya bergelar Sultan Abu al-Fath Abulfatah. Sultan Abu al-Fath Abdulfatah berusaha
memulihkan posisi Tirtayasa.
Banten sebagai Bandar perdagangan internasional dan sekaligus menandingi
perkembangan di Batavia. Beberapa yang dilakukan misalnya mengundang para
pedagang Eropa lain seperti Inggris, Perancis, Denmark dan Portugis. Sultan
Ageng juga mengembangkan hubungan dagang dengan negara-negara Asia seperti
Persia, Benggala, Siam, Tonkin, dan Cina. Perkembangan di Banten ternyata
sangat tidak disenangi oleh VOC. Oleh karena itu, untuk melemahkan peran Banten
sebagai Bandar perdagangan, VOC sering melakukan blokade. Jung-jung Cina dan
kapal-kapal dagang dari Maluku dilarang meneruskan perjalanan menuju Banten.
Sebagai balasan Sultan Ageng juga mengirim beberapa pasukannya untuk mengganggu
kapal-kapal dagang VOC dan menimbulkan gangguan di Batavia. Dalam rangka
memberi tekanan dan memperlemah kedudukan VOC, rakyat Banten juga melakukan
perusakan terhadap beberapa kebun tanaman tebu milik VOC. Akibatnya hubungan
antara Banten dan Batavia semakin memburuk.
Menghadapi serangan pasukan Banten, VOC terus memperkuat kota Batavia
dengan mendirikan benteng-benteng pertahanan seperti Benteng Noordwijk. Dengan
tersedianya beberapa benteng di Batavia diharapkan VOC mampu bertahan dari
berbagai serangan dari luar dan mengusir para penyerang tersebut. Sementara itu
untuk kepentingan pertahanan, Sultan Ageng memerintahkan untuk membangun
saluran irigasi yang membentang dari Sungai Untung Jawa sampai Pontang. Selain
berfungsi untuk meningkatkan produksi pertanian, saluran irigasi dimaksudkan
juga untuk memudahkan transportasi perang.
Pada masa pemerintahan Sultan Ageng ini memang banyak dibangun saluran
air/irigasi. Oleh karena jasa-jasanya ini maka sultan digelari Sultan Ageng
Tirtayasa (tirta artinya air).
Serangan dan gangguan terhadap VOC terus dilakukan. Di tengah-tengah
mengobarkan semangat anti VOC itu, pada tahun 1671 Sultan Ageng Tirtayasa
mengangkat putra mahkota Abdulnazar Abdulkahar sebagai raja pembantu yang lebih
dikenal dengan nama Sultan Haji. Sebagai raja pembantu Sultan Haji bertanggung
jawab urusan dalam negeri, dan Sultan Ageng Tirtayasa bertanggung jawab urusan
luar negeri dibantu puteranya yang lain, yakni Pangeran Arya Purbaya. Pemisahan
urusan pemerintahan di Banten ini tercium oleh perwakilan VOC di Banten W.
Caeff. Ia kemudian mendekati dan menghasut Sultan Haji agar urusan pemerintahan
di Banten tidak dipisah-pisah dan jangan sampai kekuasaan jatuh ke tangan Arya
Purbaya. Karena hasutan VOC ini Sultan Haji mencurigai ayah dan saudaranya.
Sultan Haji juga sangat khawatir, apabila dirinya tidak segera dinobatkan sebagai
sultan, sangat mungkin jabatan sultan itu akan diberikan kepada Pangeran Arya
Purbaya. Tanpa berpikir panjang Sultan Haji segera membuat persekongkolan
dengan VOC untuk merebut tahta kesultanan Banten. Timbullah pertentangan yang
begitu tajam antara Sultan Haji dengan Sultan Ageng Tirtayasa.
Dalam persekongkolan tersebut VOC sanggup membantu Sultan Haji untuk
merebut Kesultanan Banten tetapi dengan empat syarat. (1) Banten harus
menyerahkan Cirebon kepada VOC, (2)
monopoli lada di Banten dipegang oleh VOC dan harus menyingkirkan para
pedagang Persia, India, dan Cina, (3) Banten harus membayar 600.000 ringgit
apabila ingkar janji, dan (4) pasukan Banten yang menguasai daerah pantai dan
pedalaman Priangan segera ditarik kembali. Isi perjanjian ini disetujui oleh
Sultan Haji. Pada tahun 1681 VOC atas nama Sultan Haji berhasil merebut
Kesultanan Banten. Istana Surosowan berhasil dikuasai. Sultan Haji menjadi
Sultan Banten yang berkedudukan di istana Surosowan. Sultan Ageng kemudian
membangun istana yang baru berpusat di
Tirtayasa. Sultan Ageng berusaha merebut kembali Kesultanan Banten dari Sultan
Haji yang didukung VOC. Pada tahun 1682 pasukan Sultan Ageng Tirtayasa berhasil
mengepung istana Surosowan. Sultan Haji terdesak dan segera meminta bantuan tentara
VOC. Datanglah bantuan tentara VOC di bawah pimpinan Francois Tack. Pasukan Sultan Ageng Tirtayasa
dapat dipukul mundur dan terdesak hingga ke Benteng Tirtayasa. Sultan Ageng Tirtayasa
akhirnya meloloskan diri bersama puteranya, pangeran Purbaya ke hutan Lebak.
Mereka masih melancarkan serangan sekalipun dengan bergerilya. Tentara VOC
terus memburu. Sultan Ageng Tirtayasa beserta pengikutnya yang kemudian
bergerak ke arah Bogor. Baru setelah melalui tipu muslihat pada tahun 1683
Sultan Ageng Tirtayasa berhasil ditangkap dan ditawan di Batavia sampai
meninggalnya pada tahun 1692.
Namun harus diingat bahwa semangat juang Sultan Ageng Tirtayasa beserta
pengikutnya tidak pernah padam. Ia telah mengajarkan untuk selalu menjaga
kedaulatan negara dan mempertahankan tanah air dari dominasi asing. Hal ini
terbukti setelah Sultan Ageng Tirtayasa meninggal, perlawanan rakyat Banten
terhadap VOC terus berlangsung. Misalnya pada tahun 1750 timbul perlawanan yang
dipimpin oleh Ki Tapa dan Ratu Bagus. Perlawanan ini ternyata sangat kuat
sehingga VOC kewalahan menghadapi serangan itu. Dengan susah payah akhirnya
perlawanan yang dipimpin Ki Tapa dan Ratu Bagus ini dapat dipadamkan.
5.
Perlawanan Goa
Kerajaan Goa
merupakan salah satu kerajaan yang sangat terkenal di Nusantara. Pusat
pemerintahannya berada di Somba Opu yang sekaligus menjadi pelabuhan Kerajaan
Goa. Somba Opu senantiasa terbuka untuk siapa saja. Banyak para pedagang asing
yang tinggal di kota itu. Misalnya, orang Inggris, Denmark, Portugis, dan
Belanda. Mereka diizinkan membangun loji di kota itu. Goa anti terhadap
tindakan monopoli perdagangan. Masyarakat Goa ingin hidup merdeka dan
bersahabat kepada siapa saja tanpa hak istimewa. Masyarakat Goa senantiasa
berpegang pada prinsip hidup sesuai dengan kata-kata “Tanahku terbuka bagi
semua bangsa”, “Tuhan menciptakan tanah dan laut; tanah dibagikannya untuk
semua manusia dan laut adalah milik bersama.” Dengan prinsip keterbukaan itu
maka Goa cepat berkembang.
Pelabuhan Somba Opu
memiliki posisi yang strategis dalam jalur perdagangan internasional. Pelabuhan
Somba Opu telah berperan sebagai bandar perdagangan tempat persinggahan
kapal-kapal dagang dari timur ke barat atau sebaliknya. Sebagai contoh
kapal-kapal pengangkut rempah-rempah dari Maluku yang berangkat ke Malaka
sebelumnya akan singgah dulu di Bandar Somba Opu. Begitu juga barang dagangan
dari barat yang akan masuk ke Maluku juga melakukan bongkar muat di Somba Opu.
Dengan melihat peran dan posisinya yang strategis, VOC berusaha keras untuk
dapat mengendalikan Goa dan menguasai pelabuhan Somba Opu serta menerapkan
monopoli perdagangan. Untuk itu VOC harus dapat menundukkan Kerajaan Goa.
Berbagai upaya untuk melemahkan posisi Goa terus dilakukan. Sebagai contoh,
pada tahun 1634, VOC melakukan blokade terhadap Pelabuhan Somba Opu, tetapi
gagal karena perahu-perahu Makasar yang berukuran kecil lebih lincah dan mudah
bergerak di antara pulau-pulau, yang ada. Kemudian kapal-kapal VOC merusak dan
menangkap kapal-kapal pribumi maupun kapal-kapal asing lainnya.Raja Goa, Sultan
Hasanuddin ingin menghentikan
tidakan VOC yang
anarkis dan provokatif itu.
Sultan Hasanuddin
menentang ambisi VOC yang memaksakan monopoli di Goa. Seluruh
kekuatandipersiapkan untuk menghadapi VOC. Beberapa benteng pertahanan mulai
dipersiapkan di sepanjangpantai. Beberapa sekutu Goa mulai dikoordinasikan.
Semua dipersiapkan untuk melawan kesewenangwenangan VOC. Sementara itu VOC juga
mempersiapkan diri untuk menundukkan Goa. Politik devide et imperamulai
dilancarkan.
Misalnya VOC menjalin
hubungan dengan seorang Pangeran Bugis dari Bone yang bernama Aru Palaka.VOC
begitu bernafsu untuk segera dapat mengendalikan kekuasaan di Goa. Oleh karena
itu, pimpinan VOC, Gubernur Jenderal Maetsuyker memutuskan untuk menyerang Goa.
Dikirimlah pasukan ekspedisi yang berkekuatan 21 kapal dengan mengangkut 600
orang tentara. Mereka terdiri atas tentara VOC, orang-orang Ambon dan juga
orang-orang Bugis di bawah Aru Palaka. Tanggal 7 Juli 1667, meletus Perang Goa.
Tentara VOC dipimpin oleh Cornelis Janszoon Spelman, diperkuat oleh pengikut
Aru Palaka dan ditambah orangorang Ambon di bawah pimpinan Jonker van Manipa.
Kekuatan VOC ini menyerang pasukan Goa dari berbagai penjuru. Beberapa serangan
VOC berhasil ditahan pasukan Hasanuddin. Tetapi dengan pasukan gabungan
disertai peralatan senjata yang lebih lengkap, VOC berhasil mendesak pasukan
Hasanuddin. Benteng pertahanan tentara Goa di Barombang dapat diduduki oleh
pasukan Aru Palaka. Hal ini menandai kemenangan pihak VOC atas kerajaan Goa.
Hasanuddin kemudian dipaksa untuk menandatangani Perjanjian Bongaya pada
tanggal 18 November 1667, yang isinya antara lain
sebagai berikut.
1. Goa harus mengakui hak monopoli VOC
2. Semua orang Barat, kecuali Belanda harus
meninggalkan wilayah Goa
3. Goa harus membayar biaya perang
Sultan Hasanuddin
tidak ingin melaksanakan isi perjanjian itu, karena isi perjanjian itu
bertentangan dengan hati nurani dan semboyan masyarakat Goa atau Makasar. Pada
tahun 1668 Sultan Hasanuddin mencoba menggerakkan kekuatan rakyat untuk kembali
melawan kesewenang-wenangan VOC itu.
Benteng Rotterdam
Namun perlawanan ini
segera dapat dipadamkan oleh VOC. Dengan sangat terpaksa Sultan Hasanuddin
harus melaksanakan isi Perjanjian Bongaya. Bahkan benteng pertahanan rakyat Goa
jatuh dan diserahkan kepada VOC. Benteng itu kemudian oleh Spelman diberi nama
Benteng Rotterdam.
6. Rakyat
Riau Angkat Senjata
Ambisi untuk
melakukan monopoli perdagangan dan menguasai berbagai daerah di Nusantara terus
dilakukan oleh VOC. Di samping menguasai Malaka, VOC juga mulai mengincar
Kepulauan Riau. Dengan politik memecah belah VOC mulai berhasil menanamkan
pengaruhnya di Riau. Kerajaankerajaan kecil seperti Siak, Indragiri, Rokan, dan
Kampar semakin terdesak oleh pemaksaan monopoli dan tindakan sewenang-wenang
dari VOC. Oleh karena itu, beberapa kerajaaan mulai melancarkan perlawanan.
Salah satu contoh perlawanan di Riau adalah perlawanan yang dilancarkan oleh
Kerajaan Siak Sri Indrapura. Raja Siak Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (1723 –
1744) memimpin rakyatnya untuk melawan VOC. Setelah berhasil merebut Johor
kemudian ia membuat benteng pertahanan di Pulau Bintan. Dari pertahanan di
Pulau Bintan ini pasukan Sultan Abdul Jalil mengirim pasukan di bawah komando
Raja Lela Muda untuk menyerang Malaka. Uniknya dalam pertempuran ini Raja Lela
Muda selalu mengikutsertakan puteranya yang bernama Raja Indra Pahlawan. Itulah
sebabnya sejak remaja Raja Indra Pahlawan sudah memiliki kepandaian berperang.
Sifaf bela negara/tanah air sudah mulai tertanam pada diri Raja Indra Pahlawan.
Dalam suasana
konfrontasi dengan VOC itu, Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah wafat. Sebagai
gantinya diangkatlah puteranya yang bernama Muhammad Abdul Jalil Muzafar Syah
(1746 -1760). Raja ini juga memiliki naluri seperti ayahandanya yang ingin
selalu memerangi VOC di Malaka dan sebagai komandan perangnya adalah Raja Indra
Pahlawan. Tahun 1751 berkobar perang melawan VOC. Sebagai strategi menghadapi
serangan Raja Siak, VOC berusaha memutus jalur perdagangan menuju Siak. VOC
mendirikan benteng pertahanan di sepanjang jalur yang menghubungkan Sungai
Indragiri, Kampar, sampai Pulau Guntung yang berada di muara Sungai Siak.
Kapal-kapal dagang yang akan menuju Siak ditahan oleh VOC. Hal ini merupakan
pukulan bagi Siak. Oleh karena itu segera dipersiapkan kekuatan yang lebih
besar untuk menyerang VOC. Sebagai pucuk pimpinan pasukan dipercayakan kembali
kepada Raja Indra dan Panglima BesarTengku Muhammad Ali. Dalam serangan ini
diperkuat dengan kapal perang “Harimau Buas” yang dilengkapi dengan lancang
serta perlengkapan perang secukupnya. Terjadilah pertempuran sengit di Pulau
Guntung (1752 – 1753). Ternyata benteng VOC di Pulau Guntung itu berlapis-lapis
dan dilengkapi meriam-meriam besar. Dengan demikian pasukan Siak sulit menembus
benteng pertahanan itu. Namun banyak pula jatuh korban dari VOC, sehingga VOC
harus mendatangkan bantuan kekuatan termasuk juga orang-orang Cina. Pertempuran
hampir berlangsung satu bulan. Sementara VOC terus mendatangkan bantuan.
Melihat situasi yang demikian itu kedua panglima perang Siak menyerukan
pasukannya untuk mundur kembali ke Siak.Sultan Siak bersama para panglima dan
penasihat mengatur siasat baru. Disepakati bahwa VOC harus dilawan dengan tipu
daya. Sultan diminta berpura-pura berdamai dengan cara memberikan hadiah kepada
Belanda. Oleh karena itu, siasat ini dikenal dengan “siasat hadiah sultan”. VOC
setuju dengan ajakan damai ini. Perundingan damai diadakan di loji di Pulau
Guntung. Pada saat perundingan baru mulai justru Sultan Siak dipaksa untuk
tunduk kepada pemerintahah VOC. Sultan segera memberi kode pada anak buah dan
segera menyergap dan membunuh orang-orang Belanda di loji itu. Loji segera
dibakar dan rombongan Sultan Siak kembali ke Siak dengan membawa kemenangan,
sekalipun belum berhasil mengenyahkan VOC dari Malaka. Siasat perang ini tidak
terlepas dari jasa Raja Indra Pahlawan. Oleh karena itu, atas jasanya Raja
Indra Pahlawan diangkat sebagai Panglima Besar Kesultanan Siak dengan gelar:
“Panglima Perang Raja Indra Pahlawan Datuk
Lima Puluh”
7.
Orang-orang Cina Berontak
Sejak abad ke-5
orang-orang Cina sudah mengadakan hubungan dagang ke Jawa dan jumlahnya pun
semakin banyak. Pada masa perkembangan kerajaankerajaan Hindu-Buddha dan Islam
banyak pedagang Cina yang tinggal di daerah pesisir, bahkan tidak sedikit yang
menikah dengan penduduk Jawa. Begitu juga pada masa pemerintahan VOC di
Batavia, banyak orang Cina yang datang ke Jawa. VOC memang sengaja mendatangkan
orang-orang Cina dari Tiongkok dalam rangka mendukung kemajuan perekonomian di
Jawa. Orang-orang Cina yang datang ke Jawa tidak semua yang memiliki modal.
Banyak di antara mereka termasuk golongan miskin. Mereka kemudian menjadi
pengemis bahkan ada yang menjadi pencuri. Sudah barang tentu hal ini sangat
mengganggu kenyamanan dan keamanan Kota Batavia.Untuk membatasi kedatangan
orang–orang Cina ke Batavia, VOC mengeluarkan ketentuan bahwa setiap orang Cina
yang tinggal di Batavia harus memiliki surat izin bermukim yang disebut
permissiebriefjes atau masyarakat sering menyebut dengan “surat pas”. Apabila
tidak memiliki surat izin, maka akan ditangkap dan dibuang ke Sailon (Sri
Langka) untuk dipekerjakan di kebun-kebun pala milik VOC atau akan dikembalikan
ke Cina. Mereka diberi waktu enam bulan untuk mendapatkan surat izin tersebut.
Biaya untuk mendapatkan surat izin itu yang resmi dua ringgit (Rds.2,-) per
orang. Tetapi dalam pelaksanaannya untuk mendapatkan surat izin terjadi
penyelewengan dengan membayar lebih mahal, tidak hanya dua ringgit. Akibatnya
banyak yang tidak mampu memiliki surat izin tersebut. VOC bertindak tegas,
orang-orang Cina yang tidak memiliki surat izin bermukim ditangkapi. Tetapi
mereka banyak yang dapat melarikan diri keluar kota. Mereka kemudian membentuk
gerombolan yang mengacaukan keberadaan VOC di Batavia.
Pada suatu ketika
tahun 1740 terjadi kebakaran di Batavia. VOC menafsirkan peristiwa ini sebagai
gerakan orang-orang Cina yang akan melakukan pemberontakan. Oleh karena itu,
para serdadu VOC mulai beraksi dengan melakukan sweeping memasuki rumah-rumah
orang Cina dan kemudian melakukan pembunuhan terhadap orang-orang Cina yang
ditemukan di setiap rumah. Sementara yang berhasil meloloskan diri dan
melakukan perlawanan di berbagai daerah, misalnya di Jawa Tengah. Salah satu
tokohnya yang terkenal adalah Oey Panko atau kemudian dikenal dengan sebutan
Khe Panjang, kemudian di Jawa menjadi Ki Sapanjang. Nama ini dikaitkan dengan
perannya dalam memimpin perlawanan di sepanjang pesisir Jawa.Perlawanan dan
kekacauan yang dilakukan orang-orang Cina itu kemudian meluas di berbagai
tempat terutama di daerah pesisir Jawa. Perlawanan orang-orang Cina ini
mendapat bantuan dan dukungan dari para bupati di pesisir. Bahkan yang menarik
atas desakan para pangeran, Raja Pakubuwana II juga ikut mendukung
pemberontakan orang-orang Cina tersebut. Pada tahun 1741 benteng VOC di
Kartasura dapat diserang sehingga jatuh banyak korban. VOC segera meningkatkan
kekuatan tentara maupun persenjataan sehingga pemberontakan orang-orang Cina
satu demi satu dapat dipadamkan. Pada kondisi yang demikian ini Pakubuwana II
mulai bimbang dan akhirnya melakukan perundingan damai dengan VOC.
8.
Perlawanan Pangeran Mangkubumi dan Mas Said
Perlawan terhadap VOC
kembali terjadi di Jawa, kali ini dipimpin oleh bangsawan kerajaan yakni
Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said. Perlawanan berlangsung sekitar 20
tahun. Pada uraian terdahulu sudah disinggung bahwa beberapa raja Mataram
setelah Sultan Agung merupakan raja yang lemah bahkan bersahabat dengan kaum
penjajah. Begitu juga pada saat pemerintahan Pakubuwana II terjadi persahabatan
dengan VOC. Bahkan VOC semakin berani untuk menekan dan melakukan intervensi
terhadap jalannya pemerintahan Pakubuwana II. Wilayah pengaruh Kerajaan Mataram
juga semakin berkurang. Persahabatan antara Pakubuwana II dengan VOC ini telah
menimbulkan kekecewaan para bangsawan kerajaan, apalagi VOC melakukan
intervensi dalam urusan pemerintahan kerajaan. Hal ini mendorong munculnya
berbagai perlawanan misalnya perlawanan Raden Mas Said.
Raden Mas Said adalah
putera dari Raden Mas Riya yang bergelar Adipati Arya Mangkunegara dengan Raden
Ayu Wulan putri dari Adipati Blitar. Pada usia 14 tahun Raden Mas Said sudah diangkat
sebagai gandekkraton (pegawai rendahan di istana) dan diberi gelar R.M.Ng.
Suryokusumo. Karena merasa sudah berpengalaman, Raden Mas Said kemudian
mengajukan permohonan untuk mendapatkan kenaikan pangkat. Akibat permohonan ini
Mas Said justru mendapat cercaan dan hinaan dari keluarga kepatihan, bahkan
dikaitkaitkan dengan tuduhan ikut membantu pemberontakan orang-orang Cina yang
sedang berlangsung. Mas Said merasa sakit hati dengan sikap keluarga kepatihan.
Muncullah niat untuk melakukan perlawanan terhadap VOC yang telah membuat
kerajaan kacau karena banyak kaum bangwasan yang bersekutu dengan VOC. Ia
diikuti R. Sutawijaya dan Suradiwangsa (yang kemudian dikenal dengan Kiai
Kudanawarsa) pergi keluar kota untuk menyusun kekuatan. Kemudian Mas Said pergi
menuju Nglaroh untuk memulai perlawanan. Oleh para pengikutnya Mas Said
diangkat sebagai raja baru dengan gelar Pangeran Adipati Anom Hamengku Negara
Senopati Sudibyaning Prang. Hingga kini sebutan Mas Said yang sangat dikenal
masyarakat yakni Pangeran Sambernyawa. Perlawanan Mas Said ternyata cukup kuat
karena mendapat dukungan dari masyarakat dan ini merupakan ancaman yang serius
bagi eksistensi Pakubuwana II sebagai raja di Mataram.
Oleh karena itu, pada
tahun 1745 Pakubuwana II mengumumkan barang siapa yang dapat memadamkan
perlawanan Mas Said akan diberi hadiah sebidang tanah di Sukowati (di wilayah
Sragen sekarang). Mas Said tidak menghiraukan apa yang dilakukan Pakubuwana II
di istana, ia terus melancarkan perlawanan kepada kerajaan maupun VOC.Mendengar
adanya sayembara berhadiah itu, Pangeran Mangkubumi ingin mencoba sekaligus
menakar seberapa jauh komitmen dan kejujuran Pakubuwana II. Pangeran Mangkubumi
adalah adik dari Pakubuwana II. Pangeran Mangkubumi dan para pengikutnya
berhasil memadamkan perlawanan Mas Said. Ternyata Pakubuwana II ingkar janji.
Pakubuwana II kehilangan nilai dan komitmennya sebagai raja yang berpegang pada
tradisi, sabda pandhita ratu datan kena wola-wali(perkataan raja tidak boleh
ingkar). Karena bujukan Patih Pringgalaya, Pakubuwana II tidak memberikan tanah
Sukowati kepada Pangeran Mangkubumi. Terjadilah pertentangan antara Raja
Pakubuwana II yang didukung Patih Pringgalaya di satu pihak dengan Pangeran
Mangkubumi di pihak lain. Dalam suasana konflik ini tiba-tiba dalam pertemuan
terbuka di istana itu Gubernur Jenderal Van Imhoff mengeluarkan kata-kata yang
menghina dan menuduh Pangeran Mangkubumi terlalu ambisi mencari kekuasaan. Hal
inilah yang sangat mengecewakan Pangeran Mangkubumi, pejabat VOC secara
langsung telah mencampuri urusan pemerintahan kerajaan. Pangeran Mangkubumi
segera meninggalkan istana. Tidak ada pilihan lain kecuali angkat senjata untuk
melawan VOC yang telah semena-mena ikut campur tangan pemerintahan kerajaan.
Hal ini sekaligus untuk memperingatkan saudara tuanya Pakubuwana II agar tidak
mau didikte oleh VOC.Pangeran Mangkubumi dan pengikutnya pertama kali pergi ke
Sukowati untuk menemui Mas Said. Kedua pihak bersepakat untuk bersatu melawan
VOC. Untuk memperkokoh persekutuan ini, Raden Mas Said dijadikan menantu oleh
Pangeran Mangkubumi. Mangkubumi dan Mas Said sepakat untuk membagi wilayah
perjuangan. Raden Mas Said bergerak di bagian timur, daerah Surakarta ke
selatan terus ke Madiun, Ponorogo dengan pusatnya Sukowati. Sedangkan
Mangkubumi konsentrasi di bagian barat Surakarta terus ke barat dengan pusat di
Hutan Beringin dan Desa Pacetokan, dekat Pleret (termasuk daerah Yogyakarta
sekarang). Diberitakan pada saat itu Pangeran Mangkubumi membawahi sejumlah
13.000 prajurit, termasuk 2.500 prajurit kavaleri.
Karena perjanjian itu
berisi pasal-pasal antara lain: (1). Susuhunan Pakubuwana II menyerahkan
Kerajaan Mataram baik secara de factomaupun de jurekepada VOC. (2). Hanya
keturunan Pakubuwana II yang berhak naik tahta, dan akan dinobatkan oleh VOC
menjadi raja Mataram dengan tanah Mataram sebagai pinjaman dari VOC. (3).
Putera mahkota akan segera dinobatkan. Sembilan hari setelah penandatanganan
perjanjian itu Pakubuwana II wafat. Tanggal 15 Desember 1749 Baron van
Hohendorff mengumumkan pengangkatan putera mahkota sebagai Susuhunan Pakubuwana
III.
Perjanjian tersebut
merupakan sebuah tragedi karena Kerajaan Mataram yang pernah berjaya di masa
Sultan Agung harus menyerahkan kedaulatan atas seluruh wilayah kerajaan kepada
pihak asing. Hal ini semakin membuat kekecewaan Pangeran Mangkubumi dan Mas Said,
sehingga keduanya harus meningkatkan perlawanannya terhadap kezaliman
VOC.Perlawanan Pangeran Mangkubumi berakhir setelah tercapai Perjanjian Giyanti
pada tanggal 13 Februari 1755.
B.
Perlawanan Terhadap Perlawanan
Hindia Belanda
1.PERANG TONDANO
“Perang Tondano yang terjadi
pada 1808-1809 adalah perang yang melibatkan orang Minahasa di Sulawesi Utara dan pemerintah
kolonial Belanda pada permulaan abad XIX. Perang pada permulaan XIX ini terjadi
akibat dari implementasi politik pemerintah kolonial Hindia Belanda oleh para
pejabatnya di Minahasa, terutama upaya
mobilisasi pemuda untuk dilatih menjadi
tentara”
( Taufik abdullah dan A.B.Lapian, 2012:375)
a. Perang Tondano I
Sekalipun hanya
berlangsung sekitar satu tahun perang tonando di kenal dalam dua tahap. Perang Tondono I terjadi pada
masa kekuasaan VOC. Orang-orang spanyol disamping berdagang juga menyebarkan
agama Kristen. Tokoh yang berjasa dalam penyebaran agam kristen di tanah
minahasa adalah Fransiscus Xaverius. Hubungan dagang orang minahas dan spanyol
terus berkembang. Tetapi mulai abad XVII hubungan dagang antara keduanya mulai
terganggu dengan kehadiran para pedagang VOC. Waktu itu VOC telah berhasil
menanamkan pengaruhnya di ternate. Bahkan gubernur Ternate bernama simon cos
mendapatkan kepercayaan dari batavia untuk membebaskan minahasa dari pengaruh
spanyol. Simon cos kemudian menempatkan kapalnya di selat lembeh untuk
mengawasi pantai timur minahasa. Para pedagang spanyol dan juga makasar yang
bebas berdagang mulai tersungkir karena ulah VOC.
VOC berusaha memaksakan
kehendak agar orang-orang minahasa menjual berasnya kepada VOC. Oleh karena itu
VOC sangat membutuhkan beras untuk melakukan monopoli perdagangan bebas di
sulawesi utara. Orang-orang minahasa menentang usaha monopoli tersebut. Tidak
ada pilihan lain bagi VOC kecuali memerangi orang-orang minahasa. Untuk
melemahkan orang-orang minahasa, VOC membendung sungai temberan. Akibatnya
aliran sungai meluap dan menggenangi tempat tinggal rakyat dan para pejuang
minahasa.
b. Perang Tondano II
Perang Tondano II sudah terjadi
ketika memasuki abad ke-19, yakni pada masa pemerintahan kolonial belanda.
Perang ini di latarbelakangi oleh kebijakan Gubernur Jendral Deandels yang
mendapat mandat untuk memerangi Inggris, memerlukan pasukan dalam jumlah besar.
Untuk menambah jumlah pasukan maka direkrut pasukan dari kalangan pribumi.
Mereka yang dipilih adalah dari suku-suku yang memiliki kebernian berperang.
Beberapa suku dianggap memiliki keberanian adalah orang-orang Madura, Dayak dan Minahasa.
Dalam suasana yang
semakin kritis itu tidak ada pilihan lain bagi Gubernur Prediger kecuali
mengirim pasukan untuk menyerang pertahanan orang-orang minahasa di tondano,
minawanua. Belanda kembali menerapkan strategi dengan membendung sungai
temberan. Prediger juga membentuk 2 pasukan tangguh.
Perang Tondano II berlangsung
cukup lama,bahkan sampai agustus 1809. Dalam suasana kepenatan dan kekurangan
makananan mulai ada kelompok pejuang yang memihak kepada belanda. Namun dengan
kekuatan yang ada para pejuang tondano terus memberikan perlawanan. Akhirnya
pada tanggl 4-5 Agustus 1809 benteng
pertahanan moraya milik para pejuang hancur bersama rakyat yang berusaha
mempertahankan. Para pejuang itu memilih mati dair pada menyerah.
2.Pattimura Angkat Senjata
Maluku dengan rempah-rempahnya
memang bagaikan” mutiara dari timur “, yang senantiasa di buru oleh orang-orang
barat. namun kekuasaan orang-orang barat telah merusak tata ekonomi dan pola
perdagangan bebas yang telah lama berkembang di nusantara. Pada masa
pemerintahan inggris di bawah raffles keadaan Maluku relatif lebih tenang karena Inggris bersedia membayar hasil bumi rakyat maluku. Kegiatan kerja rodi
mulai di kurangi. Bahkan para pemuda maluku juga di beri kesempatan untuk
bekerja pada dinas angkatan perang Inggris. Tetapi pada masa pemerintahan kolonial hindia belanda, keadaan
kembali berubah. Kegiatan monopoli di Maluku kembali di perketat. Dengan demikian beban rakyat semakin berat.
Sebab selain penyerahan wajib, masih juga harus di kenai kewajiban kerja paksa,
penyerahan ikan asin, dendeng, dan koki. Kalau ada penduduk yang melanggar kan
ditindak tegas. Di tambah lagi dengan desas desus bahwa para guru akan di
berhentikan untuk penghematan, para pemuda akan dikumpulkan akan di jadikan
tentara di luar maluku, di tambah dengan sikap arogan residen saparua.hal ini
sangat mengecewakan rakyat maluka.
Menanggapi kondisi yang
demikian para tokoh dan pemuda maluku melakukan serangkaian pertemuan
rahasia.sebagai contoh telah di adakan petemukan rahasia di pulau haruku, pulau
yang di huni orang-orang islam. Selanjutnya pada tanggal 14 mei 1817 di pulau
saparua ( pulau yang di huni orang-orang kristen ) kembali di adakan pertemuan
di sebuah tempat yang sering di sebut hutan kayu putih. Dalam berbagai
pertemuan itu di simpulkan bahwa rakyat maluku tidak ingin terus menderita di
bawah keserkahan dan kekejaman belanda. Oleh karena itu, perlu mengadakan
perlawanan untuk menentang kebijakan belanda. Residen saparua harus di bunuh.
Sebagai pemimpin perlawanan di percayakan kepada pemuda yang bernama thomas
matulessy. Yang kemudian terkenal dengan gelarnya patimura. Thomas matulesy
pernah bekerja pada dinas angkatan perang inggris.
Gerakan dimulai dengan
menghancurkan kapal-kapal belanda dipelabuhan. Para pejuang maluku kemudian
menuju benteng duurtstede. Ternyata di benteng itu sudah berkumprl pasukan
belanda. Dengan demikian terjadilah pertempuran antara para pejuang maluku
melawan pasukan belanda. Belanda waktu itu dipimpin oleh presiden van den
berg. Sementara dari pihak para pejuang kecuali pattimura juga tampil
tokoh-tokoh seperti christina martha tiahahu,thomas pattiwail, dan lucas
latumahina. Para pejuang maluku dengan sekuat tenaga mengepung benteng
duurstede,dan tidak begitu menghiraukan tembakan-tembakan meriam yang
dimuntahkan oleh serdadu belanda dari dalam benteng. Sementara senjata para
pejuang maluku masih sederhana seperti pedang dan keris. Dalam waktu yang
hampir bersamaan para pejuang maluku satu persatu dapat memanjat dan masuk
kedalam benteng. Residen dapat dibunuh dan benteng duurstede dapat dikuasai
oleh para pejuang maluku. Jatuhnya benteng duurstede telah menambah semangat
juang para pemuda malukuuntuk terus berjuang dan melawan belanda.
Belanda kemudian
mendatangkan bantuan dari ambon. Datanglah 300 prajurit yang dipimpin oleh
mayor beetjes. Pasukan ini kawal oleh kapal nassau dan kapal evertsen. Namun
bantuan ini dapat digagalkan oleh pasukan pattimura,bahkan mayor beetjes.
Kembali kemenangan ini semakin menggelorakan perjuangan para pejuang diberbagai
tempat seperti di seram, hitu,maluku,dan larike. Selanjutnya pattimura
memusatkan perhatian untuk menyerang benteng zeenlandia dipulau haruku. Melihat
gelagat pattimura itu maka pasukan belanda dibenteng ini dipekuat oleh
komandannya groot. Patroli juga terus dirketat. Oleh karena itu, pattiura gagal
menembus benteng zeelandia.
3.Perang Padri
Perang Padri terjadi di
tanah Minangkabau, Sumatra Barat tahun 1821-1827 perang ini terjadi karena
adanya pertentangan antara kaum padri dengan kaum adat , pertentangan tersebut
telah menjadi pintu masuk bagi campur tangan belanda, di sana terdapat tiga
orang ulama yaitu H.miskin,H.sumanik, dan H.piabang. ulama tersebut di senut
orang-orang yang melakukan gerakan pemurnian di minangkabau dengan nama kaum
padri.
Tahun 1821 pemerintah
hindia belanda mengangkat james du pui sebagai residen minangkabau pada masa
itu dia mengadakan perjanjian persahabatan dengan tokoh adat. Dengan perjanjian
ini beberapa daerah kemudian di duduki oleh belanda. Perang padri meletus karena
masa itu belanda menempatkan dua meriang dan 100 orang serdadu belanda yng di
tentang keras.
·
Fase Pertama(1821-1825)
Di mulai bulan
september 1821 pos pos Simawang menjadi sasaran serbuan Kaum Padri. Kemudian tuanku
pasangan mengerakkan sekitar 20.000-25.000 pasukan. Pasukan padri masa itu
masih menggunakan senjata tradisionl sedangkan pasukan belanda menggunakan
persenjataan yang lengkap dan modern. Di pihak keduanya banyak kehilangan
pasukan.belanda mendirikan benteng di batu sangkar yng terkenal dengan sebutan
front van der Capellen. Perlawanan
tersebut muncul di berbagai tempat namun dengan memusatkan perjuangan di lintau
dan tuanku nan renceh menjadi pemimpin. September 1822 kaum padri berhasil
mengusir belanda dan 1823 pasukan padri berhasil mengalahkan belanda kemudian
belanda mengambil strategi damai, 26 januari 1824. Perdamaian terseut di
manfaatkn kaum padri untuk menduduki daerah-daerah lain, namun belanda menolak.
Dan itu menimbulkan amarah kaum padri. Kemudian tuanku imam bonjol menggerakkan
kembali semangat melawan belanda.
·
Fase kedua (1825-1830)
Pada tahun 1825-1830 di
gunakan belanda untuk sedikit mengendorkan ofensifnya dalam perang padri. Upaya
damai di usahakan sekuat tenaga. Kolonel de Stuers penguasa sipil militer di Sumatra Barat berusaha
mengadakan kontak dengan tokoh-tokoh kaum padri, namun tidak dihiraukan.
Belanda dengan kelicikannya kemudian belanda meminta bantuan Sulaiman al Jufri untuk mendekati
dan membujuk para pemuka kaum padri. Imam bonjol menolak tapi Tuanku Lintau menerima hali ini
juga di dukung Tuanku Nan Renceh. Tangal 15
november 1825 ada perjanjian padang yang berisi
a. Belanda mengakui
kekuasaan pemimpin padri di Batu Sangkar, Saruaso, Padang Guguk Sigandang, Agam, Bukit Tinggi dan menjamin
pelaksanan sistem agama di daerahnya
b. Kedua belah pihak tidak
akan saling menyerang
c. Kedua pihak akan
melindungi para pedagang dan orang-orang yang sedang melakukan perjalanan
d. Secara bertahap belanda
akan melarang praktik adu ayam.
·
Fase ketiga(1830-1837/1838)
Pada fase ini kaum
padri mendapatkan simpati dari kaum adat yang menyebabkan kekuatan para
pejuang di sumatra barat meningkat. Kaum padri dari bukit kamang berhasil
memutuskan saran komunikasi belanda di tanjung alam dan bukit tinggi. Tindakan
itu di jadikan gillavry untuk menyerang koto tuo di ampek angkek. Tahun 1831
gillavry di gantikan oleh jacob elout yang mendapat pesan dari jenderal van den
bosh melaksanakan serangan besar-besaran.
Enout setelah menguasai batipuh ditujukan ke benteng marapalam. Dengan
bantuan dua orang padri yang berkhianat pada tahun 1831 agustus belanda
berhasil menguasai benteng marapalam. Dengan begitu beberapa nagari di
sekitarnya ikut menyerah.
Tahun 1832 belanda
meningkatkan ofensif pada kekuatan kaum Padri. Pada tahun 1833 kekuatan belanda sudah begitu besar. Belanda
melakukan penyerangan pada pos pos pertahanan kaum padri.banuhampu, kamang,
guguk sigandang, tanjung alam, sungai kuar, candung dan nagari di agam.
Penyerangan guguk sigandang merupakan catatan hitam dengan penyembelihan dan
penyincangan terhadap tokoh-tokoh kaum padri sekaligus mereka yang dicurigai
sebagai pendukung padri. Penyerbuan kamang mendapat perlawanan sengit namun
berhasil dimenangkan belanda, dalam penyerbuan itu banyak korban dan
ditangkapnya tuanku nan cerdik.
Van den Bosch menerapkan
strategi winning the heart pada masyarakat pajak pasar dan pajak lain. dan
pajak lain di hapuskan. Penghulu yang kehilangan penghasilan diberi gaji 25-30
golden, para kuli juga diberi gaji 50 sen perhari. Elout digantikan oleh E. Francis kemudian
dikeluarkan plakat panjang. Plakat panjang yaitu pernyataan yang isinya tidak
akan ada lagi peperangan antara belanda dan kaum padri. Setelah pasukan tuanku
nan cerdi dapat dihancurkan kemudian digantikan oleh tuanku imam bonjol. Tahun
1834 belanda memusatkan menyerang pasukan imam bonjol. Tanggal 16 juni 1835
benteng bonjol dihujani meriam. Tahun 1835 agustus benteng perbukitan dekat
bonjol di kuasai belanda. Pada saat itu imam bonjol ingin berdamai tapi belanda
tidak memberi jawaban justru semakin ketat mengepung pertahanan di bonjol.tahun
1836 benteng bonjol dapat di pertahankan tetapi satu persatu pemimpin padri di
tangkap yang kemudian melemahkan pertahanan pasukan padri.bulan oktober 1837
belanda mengepung benteng bonjol. Tanggal 25 oktober 1837 imam bonjol di
tangkap di buang ke cianjur jawa barat, Tanggal 19 januari 1839 ia di buang ke
ambon, dan tahun1841 di pindah ke manado dan meninggal pada tanggal 6 november
1864.
4.Perlawanan di Bali
Bali adalah sebuah
pulau kecil yang terkenal di Indonesia. Pada abad ke 19 bali belum banyak menarik perhatian orang-orang.
Baru tahun 1830 pemerintahan Hindia Belanda aktif menanamkan
pengaruhnya. Perkembangan dominasi belanda menyulut api perlawanan rakyat bali
“perang puputan”.
Mengapa terjadi perang puputan di bali?
Abad ke 19 bali sudah
berkembang kerajaan-kerajaan berdaulat. Contohnya Kerajan Buleleng dll. Pada masa Gubernur Jenderal Daendels ada kontak
dengan kerajaan bali menyangkut hubungan dagang dan sewa. Tapi Hindia Belanda ingin menanamkan
pengaruh dan berkuasa di bali. Pertama G.A Granpre moliere misi ekonomi, kedua huskus koopman misi politik. Misi
ekonomi jauh lebih berhasil dari pada misi politik namun terus di usahakan dan
di capai perjanjian antara raja bali dan belanda.perjanjian kontrak antara
raja-raja bali dengan belanda seputar hukum tawan karang agar di hapuskan.
Karena kelihaian
belanda raja-raja bali dapat menerima perjanjian untuk meratifikasi penghapusan
hukum tawan karang.tahun 1844 raja Buleleng dan Karang Asem belum melaksanakan
perjanjian tersebut dibuktikan dengan perampasan atas isi 2 kapal belanda yang
terdampar dipantai sangsit (Buleleng) dan Jembrana (buleleng ) .
belnda memaksa raja Buleleng untuk
melaksanakan perjanjian tersebut,benda juga memaksa untuk membayar ganti rugi
antas kapal belanda. Pihak buleleng menolak dengan tegas tuntutan tersebut yang
menyebabkan perang terjadi. Pati Ktut Jelantik mempersiapkan pos-pos dan
prajurit . buleleng juga mendapat dukungan dari kerajaan karang asem dan
klungkung. Tanggal 27 juli 1846 1.700 pasukan barat menyerbu kampung-kampung
tepi pantai ada juga pasukan laut dengan kapal selam. Karena persenjataan
belanda lebih lengkap dan modern pejuang buleleng demakin terdesak dan jebol .
ibu kota singaraja dikuasai belanda. Kemudian belanda mendesak untuk
menandatangani perjanjian tanggal 6 juli 1846 yang isinya 1.dalam waktu 3
bulan,raja buleleng harus menghancurkan semua benteng buleleng yang pernah
digunakan dan tidak boleh membangun benteng baru, 2.raja buleleng harus
membayar ganti rugi dari biaya perang yang telah dikeluarkan belanda,sejumlah
75.000 gulden,dan raja harus menyerahkan I Gusti Ktut Jelantik kepada
pemerintah belanda,3. Belanda diizinkan menempatkan pasukannya di Buleleng.
Tipu daya dilakukan
oleh rakyat bali untuk berpura-pura menerima isi perjanjian itu. Tapi dibalik
itu raja dan patih ketut jelantik memperkuat pasukannya. Di Jagaraga dibangun
pertahanan yang kuat bagaikan gelar-supit urang. Rakyat juga mempertahankan
hukum tawan karang. Tahun 1847 kapal-kapal asing terdampar dipantai kusumba Klungkung,dirampas oleh
kerajaan, hal itu menimbulkan
amarah Belanda.belanda memaksa
untuk melaksanakannya tapi raja-raja bali tidak menghiraukan rakyat justru
dipersiapkan untuk berperang.
Tanggal 7 dan 8 juni
1848 mendarat bala bantuan belanda. Tanggal 8 juni serangan di jagaraga
dimulai. Sebagai pemimpin tentara belanda J.van Swieten, Letkol Sutherland benteng jagaraga dimulai namun dengan pertahanan
gelar-supit urang berhasil menjebak Belanda. Pasukan Belanda ditarik mundur.
Kekalahan itu menyakitkan perasaan pimpinan belanda, kemudian terjadi serangan balasan awal april 1849 datang serdadu belanda
dalam jumlah belanda besar. Tanggal 15 april 1849 seranggan Belanda dimulai di
jagaraga ,tanggal 16 April Jagaraga berhasil
dilumpuhkan belanda
Terbunuhnya raja
buleleng dan Patih Ketut Jelantik jatuhlah Kerajaan Buleleng. Menyusul
karang asem yang ditakhlukan 18 mei 1849. Pertempuran terus terjadi. Tahun 1906
perang puputan terjadi di Bandung, tahun 1908 perang Puputan di Klungkung.
6.Perang banjar
Di Kalimanatn Selatan
berkembang kerajaan Banjar atau Banjarmasin. Pusat kekuasaan ada di Martapura
kegiatan perdaganggan berkembang pusat dengan hasil produk yang diminati yaitu
emas,intan,lada,rotan dan damar . melalui bujuk rayu dan tekanan pada tahun
1817 terjadi perjanjiaan antara Sultan Banjar dan pemerintah belanda. Yang
berisi menyerahkan sebagian wilayah Banjar kepada Belanda.tanggal 4 mei 1826
menetapkan bahwa daerah kekuasaan banjar hanya tinggal daerah hulu sungai,
martapura, dan banjarmasin. Wilayah yang sempi membuat kesulitan dalam
kehidupan sosial dan ekonomi. Kebutuhan penguasa semakin meningkat dengan
demikian menyebabkan beban hidup semakin berat. Dalam suasana sosial ekonomi
yang memprihatinkan, terjadi konflik intern. Hal ini bermula dengan
meninggalnya putra mahkota abdul rakhman secara mendadak tahun 1852, sedangkan
sultan adam memilki 3 putera. Pangeran hidayatullah yang didukung pihak istana
dan mengantongi surat wasiat dari sultn adam, pangeran anom dijagokan
mangkubumi, pangeran tamjidillah didukung belanda. Perebutan kekuasaan terus
berlanjut dan terakhir pangeran antasari menjadi raja.
Pada tanggal 28 april
1859 orang-orang muning dibawah komando panembahan aling dan puteranya,sultan
kuning menyerbu kawasan batu bara di pengaron. Tanggal 25 juni 1859 secara
resmi tamjidilah mengundurkan diri dan mengembalikan legalia banjar kepada
belanda. Tamjidilah kemudian di asingkan ke bogor. Bulan agustus 1859 antasari
bersama pasukannya berhasil menyerang benteng belanda di tabanio. Kemudian
pasukan surapati berhasil menenggelamkan kapal belanda, onrust, dan merampas
senjata yang ada di kapal tersebut dengan demikian perang banjar semakin
meluas.
Bulan agustus-september
tahun 1859 pertempuran banjar terjadi di tiga lokasi yaitu banualima,
martapura, dan tanah laut serta sepanjang sungai barito. Pertempuran di sungai
barito di komandani oleh pangeran antasari Kiai demang di benteng Tabanio. Pertempuran
sengit terjadi dan membawa banyak korban.
Bulan september demam lehman dan beberapa tokoh lainnya di pertemuan Kandangan menghasilkan
kesepakatan yang intinya
a. Pemusatan kekuatan
perlawanan di daerah Amuntai
b. Membuat dan memperkuat
pertahanan di tanah laut, Martapura, Rantau dan Kandangan.
c. Pangeran antasari
memperkuat pertahanan di dusun atas
d. Mengusahakan senjata
tambahan
“ haram manyarah waja sampai kaputing” para pejuang tidak akan menyerah
sampai titik darah penghabisan.
Sebenarnnya pangeran
hidayatullah telah meninggalkan martapura dan berkumpul dengan seluruh anggota
keluarga dan pasukannya ia berangkat ke Amuntai. Meskipun tidak dengan perangkat kebesaaran Sultan Hidayatullah menyatakan
perang jihad fi sabilillah.gerakan perlawanan pangeran hidayatullah kemudian di
pusatkan di barabai.pasukan demang datang untuk memperkuat pasukan pangeran
hidayatullah.juga mengerahkan kapal-kapal terang dari suriname,bone dan
kapal-kapal kecil terjadi pertempuran sengit dengan seruan”allahu akbar”.mereka
penuh dengan keberanian menghadapi musuh karena yakin mati dalam perang ini
adalah mati syahid.pasukan Belanda lebih unggul dari segi persenjataan.kemudian
mereka membangun pertahanan di madang.setelah pertahanan jebol kemudian mereka
berjuang berpindah – pindah.namun belanda terus memburuh dan mempersempit ruang
gerak hidayatullah. Pada tanggal 28 februari 1862 berhasil di tangkap dan di
asingkan di cianjur jawa barat berakhirlah perlawanan hidayatullah.
Dari pihak Antarsari
terus melnjutkan perlawanan.oleh parah pengikutnya pangeran antarsari di angkat
sebagai pejuang dan pemimpin agama islam dengan gelar amirudin kalifatullah
mukminin
7. Aceh Berjihad
Aceh dikenal karena
adanya tsunami tahun 2004 dan seburtan serambi mekkah. ibarat serambi mekkah
merupakan daerah dan kerajaan yang berdaulat. Tetapi kedaulatan terganggu
karena keserakaan dan dominasi belanda.dominasi dan kekejaman tersebut
melahirkan Perang Aceh, perang terjadi pada tahun 1873-1912
a.Latar Belakang Perang Aceh
Aceh memiliki kedudukan
yang strategis juga menjadi pusat perdagangan. Daerahnnya luas dengan hasil
penting seperti ladang, hasil tambng, dan hasil hutan.karena itu dalam rangka
mewujudkan pax neerlandica belanda berambisi menguasai aceh.tetapi orang aceh dan
para sultan bersikeras mempertahankan aceh hal tersebut di dukung oleh traktat
london hal tersebut menjadi kendala belanda. Perkembangan politik yang semakin
memohok kesultanan aceh adalah ditandatanganinya traktat sumatera antara
belanda dengan inggris 2 november 1871. isi traktat tersebut antara lain
inggris memberi kebebasan kepada Belanda untuk memperluas daerah kekuasaannya diseluruh sumatera. Tahun 1873 Aceh mengirim Habib Abdurahman pergi ke Turki untuk meminta
bantuan senjata.
Langkah-langkah tersebut diketahui ole pihak belanda, kemudian Belanda mengancam dan
mengultimatum agar Kesultanan Aceh tunduk dibawah
pemerintahan Hindia Belanda. Tanggal 26
maret 1873 Aceh dinilai
membangkang. Kemudian pecahlah pertempuran aceh melawan Belanda. Para pejuang
aceh dibawah pemerintahan Sultan Mahmud Syah II mengobarkan
semangat jihad angkat senjata untuk melawan kezaliman Belanda.
Persiapan acehalam
menmghadapi pemerintahan Hindia Belanda seperti
pendirian pos-pos pertahanan,dibangun kuta semacam benteng untuk memperkuat
pertahanan wilayah, penyiapan sejumlah
pasukan dan persenjataan.
b. Syahid atau Menang
Agresi belanda terjadi pada tanggal 5 April 1873. Tentara belanda dibawah pimpinan jendral Mayor J.H.R kohler
terus melakukan serangan terhadap pasukan Aceh. Pasukan aceh terdiri dari ulebalang ulama,dan rakyat terus mendapat
gempuran dari Belanda. Tanggal 14 April 1873 terjadi
pertempuran sengit dibawah pimpinan Teuku Imeung lueng bata
melawan tentara belanda dibawah pimpinan kohler untuk memperebutkan Masjid Raya Baiturahman. Pasukan
tersebut bershasil mengalahkan kohler dibawah pohon. Kemudian pon tersebut
dinamakan Kohler Boom.
Setelah melipatgandakan kekuataanya tanggal 9 Desember 1873 belanda melakukan serangan atau agresi yang kedua. Dipimpin
oleh J.van Swieten. Tanggal 6 Januari 1874 masjid tersebut dibakar. Tanggal 15 januari 1874 Belanda dapat menduduki
istana setelah dikosongkan sultan mahmud syah. Tanggal 28 januari sultan mahmud
syah meninggal dunia karena penyakit kolera.
Dengan jatuhnya masjid Baiturahamn Belanda mengakui bahwa Aceh merupakan daerah
kekuasann belanda, namun Aceh tidak peduli. Dan Pada tahun 1884 mereka mengangkat putra mahkota
muhammad daud syah sebagai sultan Aceh. Semangat juang semakin meningkat seiring pulangnya Habib Abdulrahman dari turki
tahun 1877. Kemudian belanda menambah kekuatannya dan berhasil mendesak pasukan
Habib Abdulrahman.
c. Perang Sabil
tahun 1884 muhammad daud syah telah dewasa dan dinobatkan sebagai sultan.
Pada waktu upacra penobatan ini para pemuka Aceh memproklamirkan “ikrar prang
sabil’ ( prang sabil). Dengan perang sabil perlawanan rakyat Aceh semakin
meluas. Di Aceh bagian barat tampil teuku umar bersama istrinya cut nyak dien.
Pertempuran sengit terjadi dimeulaho. Beberapa por pertahan berhasil direbut
umar. Strategi konsentrasi stelsel belum efektif menghentikan perang Aceh.
Tahun 1891 teungku cik di tiro meninggal, tahun 1893 teuku umar menyerah pada
belanda. Pada 29 maret 1896 teuku umar berbalik melwan belanda. Peristiwa itu
membuat belanda semakin marah dan geram. Snouck horgronye agar melakukan kajian
tentang seluk beluk kehidupan dan semangat juang rakyat aceh. Oleh karena itu
snouck horgronye mengusulkan beberapa cara:
a. Perlu memecah belah
persatuan dan kekuatan masyarakat aceh, sebab di lingkungan aceh terdapat rasa
persatuaan antara kaum bangsawan,ulama dan rakyat.
b. Menghadapi kaum ulama
yang fanatik dalam memimpin perlawanan harus dengan kekerasan,yaitu dengan
kekuatan senjata
c. Bersikap lunak terhadap
kaum bangsawan dan keluarganya diberi kesempatan untuk masuk kedalam korps
pamong praja dalam pemerintahan konial Belanda.
Genderang perang dimulai tahun 1899.perang ini berlangsung selama 10 tahun. Oleh karena itu selama 10 tahu terakhir 1899-1909
di aceh disebut masa sepuluh tahun berdarah (Tien bloedige jaren). Karena tekanan yang terus menerus januari 1903 sultan
Muhammad Daud Syah terpaksa menyerah. Cara licik ini berhasil dan digunakan
untuk mematahkan perlawanan panglima pop. lem dan tuanku raha keumala. Tanggal
6 September panglima polem
juga menyarah. Tahun 1906 Cut Nyak Dien berhasil ditangkap dibuang di Sumedang,
Jawa Barat dan meninggal tanggal 8 November 1908. Pada tahun 1911 tangse Teungku Ma’at Tiro berhasil ditembak
mati.
Pada tanggal 26 september 1910 terjadi pertempuran sengit di Paya Cicem. Pang Nanggru
tewas dan Cut Nyak Mutia berhasil
meloloskan diri. Perang aceh berakhir pada tahun 1912 namun sebenarnya perang
itu berakhir pada tahun 1942.
8.Perang Batak
Di Batak terdapat
beberapa kelompok batak. Misalnya Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun,
Batak Mandailing, Batak Pakpak. Basis masyarakat batak berada di daerah
kompleks perkampungan yang disebut huta. Gabungan dari huta disebut horja.
Kesatuan dari beberapa bius itu terbentuklah satu wilayah kerajaan. Tahun 1870
yang menjadi raja patuan bosar ompu pulo yang bergelar Si Singamangaraja XII.
Masuknya dominasi belanda ketanah batak disertai dengan penyebaran agama
kristen. Namun hal tersebut ditolak oleh raja si singamangaraja karena
ditakutkan akan menghilngkan tatanan tradisional dan bentuk kesatuan negeri
yang telah ada secara turun temurun.
Dalam menghadapi perang
melawan Belanda rakyat batak sudah menyiapkan benteng pertahanan seperti
benteng alam yang terdapat di dataran tinggi toba dan silindung. Dilur tembok
ditanami bambu berduru dan disebelah luarnya lagi dibuat selokan keliling yang
cukup dalam. Pertempuran pertama terjadi di bahal batu yang berhasil
dimenangkan belanda. Perang belanda semakin menyebar luas ke daerah-daerah
lain. Dengan jumlah pasuka yang cukup besar belanda mulai mengepung
bakkara, akhirnya benteng dan istana Bakkara ditembaki hujatan-hujatan senjata
yang besar. Si singamangaraja berhasi meloloskan diri dan menyingkir. Namun
berhasil diburu belanda. Dengan kekuatannya belanda berhasil menguasai
tempat-tempat itu semua.
Juli tahun 1889 Si Singamangaja XII ke Bali angkat senjata. Tetapi tanggal
4 Desember 1899 huta puong jatuh ke tangan belanda. Pasukan Belanda dibawah
pimpinan van Daden mengadakan operasi sapu bersih. Tahun 1907 belanda fokus
menangkap si singamangaraja XII. Taggal 17 junio 1907 belanda berhasil
menangkap Si Singamangaraja XII, dalam kleadan terdesak dia dan putera
puteranya melarikan diri. Namun dalam pertempuran tersebut Si Singamangaraja
berhasil tertembak mati, begitu juga puterinya dan kedua puteranya Sutan Nagari
dari Patuan. Dengan demikian berakhirlah perlawanan Batak.
BAB III
KESIMPULAN
VOC datang pada tahun 1695 dipimpin oleh
Cornelis De Houtman yang tujuan awalnya adalah berdagang di wilayah Indonesia.
Tapi seiring berjalannya waktu, VOC memperluas wilayah perdagangannya dan
karena Indonesia kaya akan rempah-rempah maka timbul keinginan VOC agar
menguasai Indonesia beserta sumber daya alamnya.perang melawan VOC terjadi pada abad ke -18 dan 19 dan
awal 20 merupakan perlawanan terhadap colonial Hindia Belanda./
Indonesia memperoleh kemerdekaan dalam waktu yang lama.
Banyak para pahlawan yang gugur demi mempertahankan bumi pertiwi tercinta.
Mereka mengorbankan seluruh jiwa dan raga untuk mengejar sebuah kata merdeka.
Sebelum tahun 1908, telah banyak bangsa lain yang ingin menjajah dan menguasai
Indonesia. Mereka banyak memeras, menindas, dan merampas hak-hak rakyat
Nusantara. Banyak perlawanan dari pahlawan-pahlawan kita yang masih bersifat
kedaerahan. Muncul banyak tokoh-tokoh yang memegang andil besar dalam
perlawanan terhadap penjajahan yang bangsa lain lakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar